Posted by: fathimah | Mei 6, 2008

Sabtu Pagi itu …

—————————-

Orang yang melihat keadaan salaf akan melihat keajaiban atas kesabaran mereka dalam merasakan pahitnya mencari ilmu (ilmu Syar’i-ed) dan jauhnya jarak yang ditempuh. Mereka tidak patah semangat, tidak mundur, dan tidak merasa sombong. Syiar mereka … Ilmu itu sejak masa kanak-kanak sampai liang lahadIlmu itu dari tinta sampai pekuburan.”

[Dr. ’Abdussalam bin Barjas ’Abdil Karim]

—————————–

Jam setengah 6!!! Panik kulihat jam di dinding kamarku. Aduuh,, aku harus segera berangkat. Aku tahu, meski segera berangkat, toh sesampai di sana aku sudah terlambat. Perjalanan kos-tempat ta’allum membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit. Ya, sepintas itu bukan waktu yang lama. Tapi bila dibandingkan dengan berapa banyak ilmu yang bisa didapat dalam waktu itu, tentulah sangat berarti. Aku harus segera berangkat! Aku tak mau terlambat lebih lama lagi dan tertinggal lebih banyak penjelasan ustadz…

Kustater motorku. Ah, tak perlu dipanaskan terlalu lama. Aku harus berangkat sekarang juga…

Di tengah keinginanku untuk segera sampai di tempat ta’allum, dari jauh kulihat sesosok laki-laki berjalan menuju arahku. Dari cara berjalannya yang sangat pelan dan badannya yang sudah agak membungkuk, kupikir usia sosok laki-laki itu sudah cukup tua. Semakin dekat jarakku dengannya, ternyata anggapanku benar. Rambutnya hampir semuanya putih. Kupikir usianya sudah di atas 55 tahun. Semakin dekat dengan sang kakek, pandanganku tak bisa lepas darinya. Ada sesuatu yang sangat menarik perhatianku. Pagi-pagi gini, biasanya yang kulihat adalah bapak-bapak atau ibu-ibu yang sedang menyapu jalan atau halaman rumahnya. Tapi si kakek berpenampilan sangat bersih dan rapi. Berbaju koko, lengkap dengan peci.

Akhirnya kami berpapasan…

Pandanganku tertuju pada benda yang dipegang tangan kanan sang kakek. Sebuah buku!!! Dahiku mengernyit membaca judul buku itu.. Entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Masya Alloh! Ini kan hari sabtu. Jangan-jangan si kakek mau ke masjid dekat kos?!

Memang, biasanya tiap sabtu pagi ada ta’allum di masjid dekat kos. Hanya saja, saat ini ta’allum sedang libur karena ada dauroh Mushtholah hadits.

Aduuh, gimana ya? Apa si kakek tidak tahu ya kalau ta’allum sedang libur ???

Hatiku bimbang. Perlukah aku membalik arah motorku dan memberi tahu si kakek ? Aku bingung. Tapi di saat bersamaan, motorku tetap melaju kencang menuju tempat ta’allum.

Sampai di tempat ta’allum… segera kukeluarkan kitab, kusetel rekaman MP3,,, kemudian berusaha konsentrasi mendengarkan penjelasan ustadz … tapi entah kenapa si kakek lah yang masih terbayang di pikiranku. Pun sampai ta’allum selesai. Ah, kubayangkan betapa kecewanya si kakek saat mendapati masjid dalam keadaan kosong … Kek, maaf yaa. Maaf karena kurang peka dan tidak bisa bertindak cepat untuk memberitahumu. Kek, aku harap rasa kecewamu akan terbayar dengan pahala dari Allah. Kek, kuharap, engkau kan tetap mendapat pahala yang sempurna sebagaimana ketika engkau mengikuti ta’allum…

Jadi ingat…

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah meriwayatkan bahwa

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, yang artinya,

Sesungguhnya Allah Mencatat kebaikan-kebaikan dan kejahatan-kejahatan.

Kemudian beliau shallallahu ’alaihi wasallam menerangkan hal itu,

Barangsiapa yang berniat ingin melakukan kebaikan, tetapi tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat niat itu sebagai kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika seseorang itu berniat ingin melakukan kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah mencatatkan di sisi-Nya sepuluh kebaikan hingga sampai tujuh ratus kali lipat, seterusnya hingga kepada kelipatan yang sangat banyak. Jika seseorang berniat ingin melakukan kejahatan tetapi tidak melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika dia berniat untuk melakukan kejahatan lalu melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu amalan kejahatan saja.” (Muttafaq ’Alaih. Hadits ke sebelas di kitab Riyadush Shalihin)

Subhanallah. Enaknya jadi seorang muslim. Hanya dengan sebuah niat sudah bisa mendapatkan kebaikan. Ga tanggung-tanggung. Kebaikan yang sempurna di sisi-Nya !!!

Memori 1 hari sebelum dauroh Mushtholah hadits selesai … lupa tanggal brapa;)

NB: belakangan aku baru nyadar klo tyt kakeknya itu tetangga kosku;D karena akhir2 ini sering lihat kakek itu pas berangkat sholat jama’ah di masjid. Senang rasanya lihat kakek itu rajin sholat ke masjid. Hmm, b’arti pas kami papasan waktu itu, insya Alloh sang kakek sudah pulang dari masjid karena kami papasannya di dekat jalan tembus ke masjid.

Posted by: fathimah | Mei 6, 2008

Saat Tepat Mengajarkan Agama pada Anak

[Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan -rahimahullah-]

Pertanyaan :

Kapankah mulai mengajarkan agama kepada anak saya ?

Jawaban:

Pendidikan bagi anak dimulai ketika telah memulai umur tamyiz sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam, ”Perintahkanlah anak-anakmu shalat pada umur tujuh tahun dan pukullah atas hal tersebut jika telah berumur sepuluh tahun serta pisahkanlah mereka dari tempat tidurnya.

Jika anak telah menginjak umur tamyiz maka orang tua diperintahkan untuk mengajari dan mendidik anaknya dengan kebaikan, seperti Al-Qur’an, hadits-hadits yang sederhana, dan hukum-hukum syar’i yang sesuai dengan umurnya seperti mengajarinya berwudhu, shalat, do’a-do’a sebelum tidur, do’a ketika makan dan minum. Hal ini karena pada umur tamyiz anak sudah daat memahami apa yang diperintahkan dan dilarang.

Selain itu, juga melarangnya dari amalan-amalan yang tidak baik seperti berdusta, menggunjing dan lainnya sehingga ia terdidik di atas kebaikan dan meninggalkan kejelekan. Ini adalah perkara yang penting sekali yang telah dilalaikan oleh sebagian orang terhadap anak-anaknya.

Sebagian orang tua tidak memperhatikan urusan anaknya dan tidak mengarahkannya kepada kebaikan namun justru meninggalkan mereka, tidak memerintahkan shalat dan mengerjakan perbuatan baik. Bahkan mereka membiarkan anak-anaknya tumbuh di atas kebodohan dan kebiasaan yang tidak baik. Anak-anak bergaul dengan teman yang jelek, berkeluyuran, melalaikan pelajarannya, dan dampak negatif lain yang ditemukan di sebagian besar kalangan muda disebabkan kelalaian orang tua mereka. Padahal kelak orang tua akan dimintai pertanggungjawaban karena anak adalah amanat Allah.

Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, ”Kalian semua adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.” Sebagian orang tua -amat disayangkan- sibuk dengan urusan dunianya, tidak mau mengindahkan anaknyadan tidak menyisakan waktu buatnya. Waktunya hanya untuk urusan dunia saja. Ini adalah bahaya besar yang merebak di kebanyakan negeri muslim karena jeleknya pendidikan anak sehingga tidak ada perbaikan dalam urusan agama dan dunianya. Walaa haula walaa quwwata illaa Billahi. (Al Muntaqo: 5/ 297-298)

Diketik ulang dari majalah Al Mawaddah Edisi 9 tahun ke-1

Posted by: fathimah | April 12, 2008

Jadilah Salafi Sejati …

Kun Salafiyyan ‘ala jaaddah ... kalimat yang sungguh menohok hatiku…

Ya!!! … karena ketika kita telah mengakui kebenaran manhaj ini … telah menisbatkan diri kepada manhaj salaf … Maka, menjadi seorang pengikut manhaj salaf … menjadi salafi … tidak sekedar penampilan … tapi meliputi seluruh aspeknya … ilmu,, amal,, aqidah,, manhaj,, akhlaq,, muamalah,, semuanya deeeh … dan tentu saja,, kelurusan niatnya (semoga Allah senantiasa meluruskan niat kita. Amiin)

Menjadi pengikut manhaj salaf …

Bagaikan memegang bara api … panaas, bahkan terkadang melukai… hingga terkadang hampir2 kita ingin melepaskannya …

Tapi rasa manis ketika memegangnya — yang takkan kita temukan selain menempuh manhaj ini – sungguh tak ingin kita lepas …

Meski seluruh dunia mencaci …

meski aral kan slalu melintang …

Rabbi, tetapkan lah aku di atas manhaj ini … tetapkanlah aku di atas al haq … hingga ajal menjemput

Rabbi, tetapkanlah aku di atas petunjuk-Mu … meski untuk itu aku menangis … meski aku harus menghadapi rasa sepi karena sedikitnya yang menempuh jalan ini …

kumohon yaa Rabbi … tetapkanlah aku …

Jadikanlah istirahat terbaikku dengan berada di Jannah-Mu .. disertai dengan ridha-Mu

Amiin..

Posted by: fathimah | April 12, 2008

Kisah Menajubkan

Sebuah kisah menajubkan [1] dari www.ummusalma.wordpress.com

Sebuah kisah tentang sabar dan syukur kepada Allah Taa’la

Semoga qta bisa belajar darinya …

—————————————————————————————————————————————

Bagi orang yang sering mengamati isnad hadits maka nama Abu Qilabah bukanlah satu nama yang asing karena sering sekali ia disebutkan dalam isnad-isnad hadits, terutama karena ia adalah seorang perawi yang meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik yang merupakan salah seorang dari tujuh sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu nama Abu Qilabah sering berulang-ulang seiring dengan sering diulangnya nama Anas bin Malik. Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqoot menyebutkan kisah yang ajaib dan menakjubkan tentangnya yang menunjukkan akan kuatnya keimanannya kepada Allah.

Nama beliau adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi salah seorang dari para ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Al-Bashroh. Beliau meriwayatkan hadits dari sahabat Anas bin Malik dan sahabat Malik bin Al-Huwairits –radhiallahu ‘anhuma-. Beliau wafat di negeri Syam pada tahun 104 Hijriah pada masa kekuasaan Yazid bin Abdilmalik.

Abdullah bin Muhammad berkata, “Aku keluar menuju tepi pantai dalam rangka untuk mengawasi (menjaga) kawasan pantai (dari kedatangan musuh)…tatkala aku tiba di tepi pantai, tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai) dan di dataran tersebut terdapat sebuah kemah yang di dalamnya ada seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya, dan pendengarannya telah lemah serta matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya kecuali lisannya, orang itu berkata, “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan”

Abdullah bin Muhammad berkata, “Demi Allah aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini, apakah ia faham dan tahu dengan apa yang diucapkannya itu?, ataukah ucapannya itu merupakan ilham yang diberikan kepadanya??.

Maka akupun mendatanginya lalu aku mengucapkan salam kepadanya, lalu kukatakan kepadanya, “Aku mendengar engkau berkata, “Ya Allah, tunjukilah aku agar aku bisa memujiMu sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan Engkau sungguh telah melebihkan aku diatas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan“, maka nikmat manakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut?? dan kelebihan apakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu hingga engkau mensyukurinya??”

Orang itu berkata, “Tidakkah engkau melihat apa yang telah dilakukan oleh Robku kepadaku? Demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku hingga membakar tubuhku atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku hingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah hal itu kecuali semakin membuat aku bersyukur kepadaNya, karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidah (lisan)ku ini. Namun, wahai hamba Allah, engkau telah mendatangiku maka aku perlu bantuanmu, engkau telah melihat kondisiku. Aku tidak mampu untuk membantu diriku sendiri atau mencegah diriku dari gangguan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku, di saat tiba waktu sholat ia mewudhukan aku, jika aku lapar maka ia menyuapiku, jika aku haus maka ia memberikan aku minum, namun sudah tiga hari ini aku kehilangan dirinya. Maka tolonglah aku, carilah kabar tentangnya –semoga Allah merahmati engkau-”.

Aku berkata, “Demi Allah tidaklah seseorang berjalan menunaikan keperluan seorang saudaranya yang ia memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah, lantas pahalanya lebih besar dari seseorang yang berjalan untuk menunaikan keperluan dan kebutuhan orang yang seperti engkau”.

Maka akupun berjalan mencari putra orang tersebut hingga tidak jauh dari situ aku sampai di suatu gundukan pasir. Tiba-tiba aku mendapati putra orang tersebut telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas. Akupun mengucapkan inna lillah wa inna ilaihi roji’uun. Aku berkata, “Bagaimana aku mengabarkan hal ini kepada orang tersebut??”. Dan tatkala aku tengah kembali menuju orang tersebut, maka terlintas di benakku kisah Nabi Ayyub ‘alaihi as-Salam. Lalu aku menemui orang tersebut dan akupun mengucapkan salam kepadanya lalu ia menjawab salamku dan berkata, “Bukankah engkau adalah orang yang tadi menemuiku?”, aku berkata, “Benar”. Ia berkata, “Bagaimana dengan permintaanku kepadamu untuk membantuku?”.

Akupun berkata kepadanya, “Engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub ‘alaihis Salam?”, ia berkata, “Tentu Nabi Ayyub ‘alaihis Salam “, aku berkata, “Tahukah engkau cobaan yang telah diberikan Allah kepada Nabi Ayyub?, bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya, serta anaknya?”, orang itu berkata, “Tentu aku tahu”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub dengan cobaan tersebut?”, ia berkata, “Nabi Ayyub bersabar, bersyukur, dan memuji Allah”.

Aku berkata, “Tidak hanya itu, bahkan ia dijauhi oleh karib kerabatnya dan sahabat-sahabatnya”. Ia berkata, “Benar”. Aku berkata, “Bagaimanakah sikapnya?”, ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur dan memuji Allah”. Aku berkata, “Tidak hanya itu, Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang-orang yang lewat di jalan, tahukah engkau akan hal itu?”, ia berkata, “Iya”, aku berkata, “Bagaimanakah sikap nabi Ayyub?” Ia berkata, “Ia bersabar, bersyukur, dan memuji Allah, langsung saja jelaskan maksudmu –semoga Allah merahmatimu-!!”.

Aku berkata, “Sesungguhnya putramu telah aku temukan di antara gundukan pasir dalam keadaan telah diterkam dan dimakan oleh binatang buas, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu dan menyabarkan engkau”. Orang itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepadaNya lalu Ia menyiksanya dengan api neraka”, kemudian ia berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, lalu ia menarik nafas yang panjang lalu meninggal dunia.

Aku berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi roji’uun“, besar musibahku, orang seperti ini jika aku biarkan begitu saja maka akan dimakan oleh binatang buas, dan jika aku hanya duduk maka aku tidak bisa melakukan apa-apa[2]. Lalu akupun menyelimutinya dengan kain yang ada di tubuhnya dan aku duduk di dekat kepalanya sambil menangis.

Tiba-tiba datang kepadaku empat orang dan berkata kepadaku “Wahai Abdullah, ada apa denganmu?, apa yang telah terjadi?”. Maka akupun menceritakan kepada mereka apa yang telah aku alami. Lalu mereka berkata, “Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya!”, maka akupun membuka wajahnya, lalu merekapun bersungkur mencium keningnya, mencium kedua tangannya, lalu mereka berkata, “Demi Allah, matanya selalu tunduk dari melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah, demi Allah tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang dalam keadaan tidur!!”.

Aku bertanya kepada mereka, “Siapakah orang ini –semoga Allah merahmati kalian-?”, mereka berkata, Abu Qilabah Al-Jarmi sahabat Ibnu ‘Abbas, ia sangat cinta kepada Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kamipun memandikannya dan mengafaninya dengan pakaian yang kami pakai, lalu kami menyolatinya dan menguburkannya, lalu merekapun berpaling dan akupun pergi menuju pos penjagaanku di kawasan perbatasan.

Tatkala tiba malam hari, akupun tidur dan aku melihat di dalam mimpi ia berada di taman surga dalam keadaan memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah

}سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ| (الرعد:24)

Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga) karena kesabaran kalian, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. 13:24)

Lalu aku berkata kepadanya, “Bukankah engkau adalah orang yang aku temui?”, ia berkata, “Benar”, aku berkata, “Bagaimana engkau bisa memperoleh ini semua”, ia berkata, “Sesungguhnya Allah menyediakan derajat-derajat kemuliaan yang tinggi yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa dengan bencana, dan rasa syukur tatkala dalam keadaan lapang dan tentram bersama dengan rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun dalam keadaan di depan khalayak ramai”

———————————————————————————————————————————————-

[1]. Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda dari Kitab Ats-Tsiqoot karya Ibnu Hibban, tahqiq As-Sayyid Syarofuddin Ahmad, terbitan Darul Fikr, (jilid 5 halaman 2-5)

[2]. Hal ini karena biasanya daerah perbatasan jauh dari keramaian manusia, dan kemungkinan Abdullah tidak membawa peralatan untuk menguburkan orang tersebut, sehingga jika ia hendak pergi mencari alat untuk menguburkan orang tersebut maka bisa saja datang binatang buas memakannya, Wallahu a’lam

Sumber : Diambil dari artikel majalah Fatawa [Adapun saya mengambil artikel ini dari www.muslim.or.id]

Pengertian ‘Salaf’

Secara bahasa, salaf berarti orang-orang yang mendahului kita, baik dari segi keilmuan, keimanan, keutamaan, maupun kebaikannya. Ibnul Manzhur berkata, “Salaf juga berarti orang-orang yang mendahuluimu, baik orang tua maupun karib kerabatmu yang lebih tua dan utama darimu.” Termasuk dalam pengertian ini apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah kepada putrinya Fatimah az-Zahra’, “Sesungguhnya sebaik-baik salaf bagimu adalah aku” HR. Muslim (no. 1450).

Adapun yang dimaksud ‘salaf’ menurut istilah para ulama pada asalnya adalah para sahabat Nabi, kemudian disertakan kepada mereka -dalam istilah tersebut- generasi sesudah mereka yang mengikuti jejak mereka. Kitab Limadza Ikhtartu Madzhab Salaf hal. 30

Sedangkan menurut tinjauan waktu, maka ‘salaf’ maksudnya adalah generasi-generasi terbaik yang patut diteladani dan diikuti, yaitu tiga generasi pertama yang telah dipersaksikan keutamaannya oleh Rasulullah dalam sabdanya:

Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian sesudahnya lagi.” Akan datang takhrijnya sebentar lagi. Namun, makna ‘salaf’ menurut tinjauan waktu ini masih belum cukup, karena kita melihat kemunculan firqah-firqah sesat dan bid‘ah-bid‘ah pada masa-masa tersebut, sehingga orang yang hidup pada masa tersebut tidak cukup dikatakan bahwa dia berada di atas manhaj Salaf sampai diketahui bahwa dia sejalan dengan para sahabat dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, para ulama menambahkan dengan istilah ‘As-Salaf Ash-Shalih’ (generasi Salaf yang saleh). Pada perkembangan selanjutnya istilah salaf dinisbatkan kepada ‘orang-orang yang senantiasa menjaga aqidah dan manhaj hidupnya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan para sahabatnya sebelum terjadi perpecahan dan perselisihan’, yaitu dengan munculnya beberapa macam firqah (kelompok Islam sempalan). Ibid hal. 30-33.

Kewajiban Merujuk kepada Pemahaman Salaf

Sebagai seorang muslim kita dituntut untuk menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup. Keselamatan hidup kita, dunia dan akhirat, hanya akan diperoleh dengan cara kita tunduk dan patuh kepada keduanya (baca kembali “Fatawa” edisi ke-2). Namun kenyataan di lapangan menunjukan bahwa kaum muslimin terpecah-belah dalam berbagai pemahaman. Semua mengklaim dirinyalah yang berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Masing-masing mengaku paling benar dan menyalahkan orang lain yang menyelisihinya. Pertanyaan kita adalah siapakah yang paling benar dan paling tepat dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga kita tidak boleh meyelisihi mereka ? Jawabannya adalah para sahabat Nabi. Para sahabat itulah orang-orang yang paling paham tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah karena mereka hidup di zaman turunnya kedua wahyu tersebut kepada Nabi. Maka wajib bagi kita mengikuti petunjuk dan bimbingan mereka.

Dalil-Dalil Bahwa Pemahaman Salaf Wajib Menjadi Rujukan Lihat Limadza ikhtartu al-manhaj as-salafi hal. 86-98, dengan perubahan.

Beberapa dalil di bawah ini menunjukkan bahwa pemahaman salaf wajib menjadi rujukan umat Islam dalam memahami agamanya.

1. Allah berfirman, yang artinya,

Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka (dalam melaksanakan) kebaikan, Allah ridha kepada mereka; dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. At-Taubah:100).

Dalam ayat di atas Allah memuji generasi Salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka. Maka, dari sini dapat diketahui bahwa bila Salaf mengemukakan suatu pendapat kemudian diikuti oleh orang-orang pada generasi berikutnya, maka mereka menjadi orang-orang yang terpuji dan berhak mendapatkan keridhaan dari Allah sebagaimana yang didapatkan oleh generasi Salaf. Kalaulah mengikuti jejak Salaf tidak berbeda dengan mengikuti jejak selainnya, niscaya mereka tidak pantas untuk dipuji dan diridhai; dan hal seperti itu jelas bertentangan dengan ayat di atas. Dengan demikian, berdasarkan ayat di atas telah jelas bahwa pemahaman Salaf menjadi rujukan bagi generasi berikutnya.

2. Allah berfirman, yang artinya,

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; menyuruh kepada yang ma‘ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Namun, di antara mereka ternyata ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran:110)

Dalam ayat ini Allah menetapkan adanya keutamaan generasi Salaf dibanding keseluruhan umat karena pernyataan dalam ayat tersebut tertuju kepada kaum muslimin, yang waktu itu tiada lain adalah para sahabat, generasi salaf pertama yang mendulang ilmu langsung dari Rasulullah tanpa perantara. Adanya pemberian gelar kepada mereka sebagai umat terbaik menunjukkan bahwa mereka itu senantiasa istiqamah dalam segala hal, sehingga tidak akan menyimpang dari kebenaran. Allah juga menjelaskan sifat mereka sebagai bukti kelurusan jalan hidup mereka, yaitu bahwa mereka selalu memerintahkan kepada yang ma‘ruf dan melarang seluruh yang mungkar. Berdasarkan ayat di atas, juga jelas bahwa pemahaman Salaf menjadi hujjah dan rujukan bagi generasi sesudah mereka sampai Hari Kiamat.

3. Rasulullah bersabda,

Sebaik–baik manusia adalah generasiku; kemudian generasi sesudahnya; kemudian generasi sesudahnya lagi. Selanjutnya akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang di antara mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” Hadits mutawatir, di antaranya dengan lafal di atas yang diriwayatkan oleh Bukhari (no. 2509, 3451, dan 6065), Muslim (no. 1533), dan lainnya.

Apakah yang menjadi ukuran kebaikan pada diri mereka (tiga generasi Salaf) dalam hadits Rasulullah tersebut adalah warna kulit, bentuk tubuh, harta, atau yang sejenisnya? Jelas bukan! Dan tidak diragukan lagi bahwa ukuran kebaikan yang dimaksud tidak lain adalah ketakwaan hati dan amal saleh. Mengenai hal ini Allah berfirman, yang artinya,

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian menurut pandangan Allah adalah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat: 13)

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan melihat rupa dan harta kekayaan kalian. Allah hanya akan melihat kepada hati dan amal kalian.” H.R. Muslim (no. 2564).

Salah seorang sahabat Nabi, Ibnu Mas‘ud, menceritakan bahwa Allah telah menjelaskan kepada umat ini bahwa hati para sahabat adalah sebaik-baik hati setelah hati Nabi Muhammad. Allah menganugerahkan kepada mereka pemahaman yang tidak akan pernah dicapai oleh generasi berikutnya. Sehingga, apa-apa yang mereka nilai baik, maka akan baik menurut Allah dan apa-apa yang mereka nilai buruk, juga menjadi buruk menurut Allah Lihat Musnad Ahmad (I/379).
Jadi jelaslah, pemahaman Salaf menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya sampai Hari Akhir nanti.

4. Allah berfirman, yang artinya,

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (Q.S. Al-Baqarah:143)

Kata wasath pada ayat di atas artinya adil dan pilihan. Sebagaimana halnya kandungan ayat pada poin dua, walaupun sifat yang terkandung dalam ayat di atas adalah kaum muslimin secara umum, namun generasi Salaf masuk dalam barisan pertama yang mendapatkan gelaran sifat tersebut. Mereka adalah manusia yang paling adil dan pilihan. Mereka adalah generasi utama dalam umat ini. Mereka paling adil dalam berbuat, dalam berkata-kata, dan dalam berkehendak. Memang sangat pantaslah mereka dijadikan saksi atas seluruh umat. Persaksian mereka akan diterima di hadapan Allah karena persaksian mereka berdasarkan ilmu dan kejujuran. Mengenai hal ini Allah berfirman, yang artinya,

Dan sembahan-sembahan selain Allah yang mereka sembah itu tidak dapat memberi pembelaan. (Orang yang dapat memberi pembelaan adalah) tidak lain orang yang bersaksi dengan benar (yaitu orang yang bertauhid) dan meyakini(nya).” (Q.S. Az-Zukhruf:86)

Jika persaksian mereka diterima di hadapan Allah, tentu tidak diragukan lagi bahwa pemahaman mereka menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya. Memang umat Islam telah bersepakat bahwa tidak ada generasi yang berpredikat adil secara mutlak kecuali para sahabat. Sehingga, berita mereka pasti diterima dan tidak perlu diteliti lagi kebenarannya. Dari situ jelaslah, bahwa pemahaman mereka menjadi rujukan bagi yang lainnya dalam memahami nas-nas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita diperintahkan untuk mengikuti jejak dan jalan hidup mereka.

5. Allah berfirman, yang artinya, “… dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku” (Q.S. Luqman:15)
Para sahabat adalah orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah, sehingga Allah memberikan bimbingan kepada mereka bagaimana berkata dan beramal yang baik. Mengenai hal ini Allah berfirman, yang artinya,
“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan mau kembali kepada Allah, mereka mendapatkan kabar gembira; oleh sebab itu, sampaikanlah kabar tersebut kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan-perkataan lalu mengikuti mana yang paling baik di antara perkataan tersebut. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal.” (Q.S. Az-Zummar:17-18)

Orang yang menelaah perjalanan hidup para sahabat pasti akan mengetahui bahwa seluruh sifat yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut dimiliki oleh mereka. Jadi, memang sudah seharusnyalah kita mengikuti jejak mereka dalam memahami agama Allah ini, baik dalam memahami Kitab-Nya maupun Sunnah Nabi-Nya. Allah mengancam orang yang tidak mau mengikuti jalan mereka dengan api neraka, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
“Barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan tidak mengikuti jalan orang-orang beriman, maka Kami biarkan dia dikuasai oleh kesesatan dan akan Kami masukkan ke dalam neraka Jahannam. Padahal neraka Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (Q.S. An-Nisa’:115)

Dalam ayat tersebut, Allah mengancam orang yang tidak mengikuti jalan orang-orang beriman. Yaitu, jalan para sahabat -sebagai generasi pertama yang dimaksudkan dalam ayat tersebut- dan generasi sesudahnya. Ini menunjukkan bahwa mengikuti jalan mereka dalam memahami syariat Allah adalah wajib. Barangsiapa berpaling dari jalan mereka, maka dia akan menuai kesesatan dan diancam dengan neraka Jahanam. Tidak ada jalan lain yang harus kita tempuh selain jalan kaum mukminin, sebagaimana tersebut dalam firman Allah, yang artinya, “Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya. Tidak ada yang lain setelah kebenaran itu, kecuali kesesatan. Maka, mengapa kamu mau dipalingkan (dari kebenaran).” (Q.S. Yunus:32)

Siapapun yang tidak mengikuti jalan orang-orang beriman pasti dia mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman. Siapa saja yang mau mengikuti jalan orang-orang beriman -jalannya para sahabat - jelas akan mendapatkan keselamatan. Jelaslah, pemahaman para sahabat -sebagai generasi salaf pertama- dalam memahami agama adalah menjadi rujukan bagi kita semuanya. Barangsiapa berpaling darinya, maka sesungguhnya dia telah memilih kebengkokan dan kesempitan. Cukuplah neraka Jahannam sebagai balasan baginya; padahal Jahannam itu sejelek-jelek tempat kembali dan tempat tinggal.

6. Rasulullah pernah bersabda dalam hadits yang menyebutkan tentang perpecahan umat. Dalam hadits tersebut beliau memerintahkan kepada kita agar memegang teguh sunnah beliau dan sunnah Khulafa’ Rasyidin. Beliau bersabda, “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada perikehidipanku dan perikehidupan Khulafa’ Rasyidin sepeninggalku.”

Beliau menyatakan bahwa dari sekian banyak kelompok Islam hanya ada satu yang selamat dan menjadi ahli surga, yaitu mereka yang menempuh perikehidupan sesuai dengan bimbingan Rasulullah dan para sahabatnya. Hal ini beliau tegaskan dalam sabdanya:
“Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan saja yaitu golongan yang pada saat itu mengikuti peri kehidupanku dan peri kehidupan para sahabatku.”

Berdasarkan riwayat-riwayat di atas kita mengetahui bahwa perikehidupan seluruh sahabat adalah perikehidupan Khulafa’ Rasyidin dan perikehidupan Rasulullah. Jadi jelaslah, pemahaman sahabat -sebagai generasi salaf pertama- menjadi rujukan bagi generasi berikutnya.

Para Salafi Pengikut Jalan Hidup Rasulullah dan Para Sahabatnya

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas jelaslah bahwa mengikuti jalan hidup Rasulullah dan para sahabat adalah satu-satunya jalan keluar dan pilihan yang tepat. Lalu, siapakah di antara sekian banyak kelompok dalam Islam yang jalan hidupnya mengikuti Rasulullah dan para sahabat? Jawabannya tidak lain adalah para salafi.

Jawaban tersebut disimpulkan dari dua hal berikut :

Pertama, paham-paham sesat seperti Khawarij, Rafidhah (Syi‘ah), Murji‘ah, Jahmiyah, Qadariyah, Mu‘tazilah, dan lain-lain muncul setelah masa kenabian dan masa Khulafa’ Rasyidin. Paham-paham sesat seperti itu bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan jalan hidup Rasulullah dan para sahabat. Bukankah tidak mungkin kita mengatakan bahwa jalan hidup para sahabat sama dengan jalan hidup mereka? Jelas tidak mungkin. Dengan demikian jelaslah bahwa yang benar dan perlu kita ikuti jalan hidupnya bukanlah kelompok-kelompok sesat di atas. Kalau bukan mereka itu, siapa? Jelas, para salafi, yaitu orang-orang yang selalu berpegang erat dengan jalan hidup Rasulullah dan para sahabat.

Kedua, tidak kita dapati kelompok-kelompok dalam Islam yang mempunyai jalan hidup seperti jalan hidup Rasulullah dan para sahabat kecuali Ahlus Sunnah. Ahlus Sunnah ini tidak lain adalah para salafi. Mengapa? Perlu diketahui, bahwa kelompok-kelompok sesat tersebut sebagian dari mereka meragukan keadilan sikap sahabat; sebagian yang lain bahkan mengkafirkan sahabat; sebagian yang lainnya lagi lebih mendewakan akal daripada harus kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Bagaimana mungkin kelompok-kelompok sesat itu mau mengikuti jalan hidup Rasulullah dan para sahabat, sementara jalan hidup mereka seperti itu? Wallahu a‘lam bish shawab.

Posted by: fathimah | Februari 5, 2008

Wanita Terbaik …

Wanita terbaik …

Adalah

Yang paling jarang terlihat

Yang paling jarang terdengar suaranya

Yang paling sedikit dikenal oleh manusia

Wanita terbaik …

Yang menjadikan taqwa sebagai pakaiannya

Yang menjadikan malu sebagai perhiasan terindahnya

Wanita terbaik …

Yang tahu bagaimana menjaga diri dan kehormatannya

Sehingga karenanya ia menjadi mulia

 

Bagaimana caranya menjadi wanita Terbaik ???

Maka tunduk dan taatilah syariat-Nya …

Posted by: fathimah | Februari 5, 2008

Jihad Teragung Wanita Muslimah

–Tulisan ini diambil dari buletin Tuhfatun Nisa edisi 10

[yang sampai saat ini belum sempat terbit karena beberapa ‘n suatu hal hehe.

Doain semoga bisa segera terbit yach] –

Asma’ binti Yazid bin Sakan radhiyallahu ‘anha pernah datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan dari kaum muslimat di belakangku. Mereka semua berkata seperti perkataanku dan berpendapat seperti pendapatku. Sesungguhnya Allah telah mengutusmu kepada kaum lelaki dan perempuan maka kamipun beriman kepadamu dan mengikutimu. Kami kaum wanita dipingit dan di rumah-rumah (suami) kami. Kaum laki-laki diberi keutamaan dengan shalat berjama’ah, menghadiri pemakaman jenazah dan jihad. Jika mereka (kaum lelaki) pergi berjihad, kami jaga harta-harta mereka serta kami rawat anak-anak mereka?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memalingkan wajahnya pada para sahabat, kemudian berkata, “Apakah kalian pernah mendengar perkataan seorang wanita tentang dien yang lebih baik dari wanita ini?” Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, “Pulanglah, wahai Asma’. Dan beritakanlah kepada wanita-wanita yang mengutusmu. Sesungguhnya kesetiaan salah seorang di antara kalian terhadap suaminya, upayanya untuk mendapat ridha suami, serta ketundukannya untuk senantiasa mencocoki suaminya, (pahalanya) sebanding dengan keutamaan yang telah kau sebutkan bagi lelaki.” (HR. Muslim)

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas kesempurnaan pengabdian seorang istri kepada suami merupakan salah satu medan jihad baginya, selain haji dan umrah, berdakwah ke jalan Allah dan menuntut ilmu syar’i.

Keluarga merupakan miniatur dari sebuah masyarakat. Tempat para suami melaksanakan tugas kepemimpinnya. Juga merupakan ladang subur bagi istri menuai ridha Ilahi. Tempat ia menyemai benih bakti sebagai seorang istri dan ibu. Suatu pengabdian yang terhitung sebagai jihad teragung. Allah Ta’ala telah menetapkan baginya.

Akan tetapi, menjadi seorang istri maupun ibu rumah tangga telah dianggap sebelah mata oleh sebagian besar kaum wanita saat ini. Mereka disibukkan dengan pekerjaan mereka dan mengejar karier. Masalah mengurus rumah serta mengasuh dan mendidik anak dengan mudahnya diserahkan pada pembantu atau baby sitter. Alasan mereka, toh uang yang mereka hasilkan dari pekerjaan mereka adalah untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka nantinya.

Ukhty muslimah, Allah dan Rasul-Nya tidak pernah bermaksud untuk mengekang wanita. Islam dengan kesempurnaan syariatnya, telah menempatkan wanita berada di puncak kehormatan dan kemuliaan. Dengan mensyariatkan mereka untuk senantiasa menetap di rumah, memberikan tugas dan peran yang sesuai fitrahnya sebagai wanita. Suatu kedudukan terhormat yang tidak pernah diberikan oleh agama manapun selainnya. Islam begitu luwes menganugerahkan peran bagi wanita dalam kehidupan, batasan-batasan tanggung jawab, dan kewajibannya dalam masyarakat.

Ukhty, Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman (mukmin) dan tidak (pula) bagi perempuan yang beriman (mukminah), apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzaab 36). Allah-lah Yang Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya. Atau apakah kita berpikir bahwa kita lebih mengetahui mana yang lebih baik dibandingkan dengan Allah dan Rasul-Nya? Wa iya’udzubillah.

Perintah untuk tetap tinggal di rumah tidaklah berlaku secara mutlak. Dalam keadaan darurat, kaum wanita diperbolehkan untuk bekerja. Akan tetapi harus tetap memenuhi syarat tertentu. Antara lain, harus dengan seizin wali baik ayah atau suami, mengerjakan pekerjaan yang diperbolehkan bagi wanita, tidak ikhtilath (campur baur dengan laki-laki), tidak bertabarruj (berhias) dan memperlihatkan perhiasan yang bisa memancing fitnah, tidak memakai wangi-wangian saat keluar rumah serta harus berhijab dengan hijab yang sudah ditentukan oleh syariat. Meskipun begitu, seandainya kaum wanita mengetahui betapa besar pahala yang disediakan bagi wanita yang mengurus dan mendidik keluarga tentulah tidaklah sebanding dengan waktu dan energi yang mereka habiskan mereka untuk bekerja.

Saudariku, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan (yang diwajibkan atasnya), menjaga kemaluannya serta mentaati suaminya, niscaya diperintahkan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang engkau suka.’” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ I/240).

Subhanallah, tidakkah engkau menginginkan surga saudariku? Maka, yakinkan diri dan bersiaplah sekarang juga. Bagaimana menjadikan diri sebagai istri shalihah, yaitu yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara mereka. Semoga Allah menolong dan memberikan keistiqomahan dalam menjalankan ketaatan pada Allah, Rasul-Nya, serta suami kita kelak. Aamiin.

*Diringkas dari artikel Jihad Teragung Wanita Muslimah, Majalah As Sunnah Edisi 12 dan 13/ Tahun VI/ 1423H/2003 M, dengan sedikit tambahan dari penulis

Posted by: fathimah | Desember 14, 2007

Bismillah

Alhamdulillah, … postingan pertama
masih perlu perbaikan sana sini … masih harus utak utik hehe
sekeping hatiku berkata … Blog ini harus membawa kebaikan …
minimal untuk diriku … tapi juga semoga untuk yang lain

————————————————————————————————-

Sebuah tulisan dari blog sahabatku –way-of-mekuhadirkan di sini …

Hati bagaikan sekuntum bunga yang ditanam di gersangnya tanah

Akan di bawa ke mana hati-hati ini??

Setelah sekilas dia mendapat siraman oase dari nur sang Pencipta

Adalah pilihan… mereguk nikmatnya oase itu…

Atau membiarkannya layu…

Di sini udara begitu gersang dan hampa, aku tak mau terbelenggu nikmatnya dunia
Duhai hati… kapankah engkau kembali??
Kembali meniti taman-taman surga, yang penuh duri dan melukai
Namun betapa luka itu akan terobati dengan melihat-Mu, yaa Rohmaan…
Jika aku sanggup berjalan tanpa menoleh lagi, meski harus merangkak atau berlari
Ya, harusnya aku tak menoleh lagi…

Sentuhan KILAS oleh ust. Abu ‘Isa @MPR 1428 H

Kategori